Selasa, 28 Desember 2010

Bagaimana Mengembangkan Kecerdasan Berbahasa Anak

KOMPAS.com - Bahasa adalah alat komunikasi manusia di muka bumi ini. Jadi, betapa penting kemampuan bahasa ini, tak terkecuali bagi anak. Itulah mengapa, kemampuan bahasa harus sudah diajarkan padanya sejak dini, khususnya bahasa ibu.
Menurut Edward Andriyanto Soetardhio, M.Psi., dari Fakultas Psikologi UI,  perkembangan bahasa setiap anak intinya sama—bahkan pada anak dengan bisu dan tuli—hingga tahap cooing. Jangan salah, anak bisu tuli pun akan mengalami tahap babbling, hanya saja lebih terlambat daripada anak normal. Masuk tahap selanjutnya, anak bisu tuli tidak bisa mengikuti, yaitu berceloteh hingga mampu mengucapkan suku kata yang menggunakan konsonan dengan kombinasi vokal.
Walau tahap alamiah bahasa akan dilalui anak normal, namun—sekali lagi—kita tetap mesti memberikan stimulasi agar anak bisa menapaki jenjang perkembangan bahasanya dengan benar dan sesuai dengan tahapannya. Nah, berikut ini tip-tip mengembangkan kemampuan/kecerdasan bahasa anak berdasarkan tahapan usianya.
Usia bayi
1. Ajak bayi untuk banyak berbicara. Aturlah nada bicara Anda supaya rendah dan lembut, sehingga tidak mengagetkan si kecil. Tatap wajah si bayi, dan ucapkan kata-kata dengan jelas alias tidak bergumam.
2. Lakukan aktivitas bervariasi untuk merangsang kecerdasan bayi, entah dengan bermain, bernyanyi, dan sebagainya. Yang harus diingat, dalam sebuah aktivitas sangat mungkin beberapa kecerdasan ikut terstimulasi.
3. Berikan mainan yang menstimulasi kecerdasannya seperti mainan yang dapat mengeluarkan suara.
4. Di usia 9 bulan pilihkan juga buku cerita dengan cerita menarik dan gambar yang besar. Kenalkan juga semua hal yang dilihat bayi di buku cerita, lakukan secara berulang-ulang sehingga kosakata yang dikenalnya semakin bertambah.
5. Kenalkan juga anggota tubuh si kecil seperti tangannya, hidung, mata, dan anggota tubuh lainnya. Bimbing bayi agar mengenali anggota tubuhnya tersebut. Mulailah dengan anggota tubuh orangtua dulu seperti hidung, selanjutnya tunjuk juga hidung bayi.  
6. Meski belum bisa berbicara, mulai usia sekitar 9 bulanan bayi dapat melakukan perintah sederhana seperti melempar bola, mengambil mainan dalam jangkauannya, dan lain-lain.
Usia batita
1. Si kecil mulai berbicara dengan menggunakan satu kata atau lebih. Tetapi saat berbicara suaranya masih cadel. Nah, orangtua harus segera memberikan stimulasi yang benar yaitu memperbaiki cara berbicara anak dengan menggunakan bahasa yang dipahami orang lain. Ketika anak berkata, “Ma… num” (maksudnya, minta minum), segera luruskan, “Oh, Adek mau minum.”
2. Sering-seringlah mengajaknya ngobrol. Semakin banyak waktu yang digunakan untuk berbicara bersama, akan semakin banyak kosakata anak.
3. Lakukan stimulasi lewat bercerita. Rangsang anak dengan apa yang ada di buku cerita. “Ini ada gambar binatang berleher panjang dan berkaki empat, namanya apa ya…? Betul, jerapah.” Dengan cara itu, kosakata anak ikut bertambah.
4. Berikan instruksi sederhana, “Yuk, kita lipat kertasnya.” Cara ini selain melatih bahasa, juga mengasah motorik halusnya.
5. Bermain pura-pura atau peran juga dapat dikenalkan, entah bermain masak-masakan, dokter-dokteran, bertelepon, dan sebagainya.
Usia prasekolah
1. Berikan dua perintah sederhana, “Ambil bola dan tendang ke gawang.” 
2. Bermain tebak-tebakan, “Binatang yang hidup di air apa, ya?”
3. Minta anak menceritakan pengalamannya di sekolah, namun jangan sekali-kali memotong cerita anak. Simak dan perhatikan baik-baik apa yang diceritakan. Bangun suasana gembira saat bercerita.
4. Bila anak berkata tidak jelas, minta dia mengulangi kata itu sehingga ia dapat mengucapkannya dengan jelas.
5. Ajarkan anak menyanyi. Untuk permulaan, kenalkan dengan lagu pendek yang sederhana. Bila memungkinkan, iringi dengan musik.
6. Berikan kesempatan kepada anak untuk memilih dan mengambil keputusan, misal, saat membeli mainan atau buku. Setelah membeli, minta pendapat anak tentang barang yang baru dibelinya.
Usia sekolah
1. Ajari anak mencintai buku. Caranya, ajak anak ke perpustakaan, toko buku, pameran, dan sebagainya. Dorong anak untuk membeli buku kesukaannya, lakukan diskusi kecil tentang buku yang baru dibelinya. Selain kosakata bertambah, lewat buku, kemampuan kognitif anak juga turut terasah.
2. Minta anak menceritakan pengalamannya di sekolah. Selain bercerita secara langsung, kemukakan pengalaman itu dalam catatan hariannya.
3. Minta anak membuat puisi, cerita pendek, dan lain-lain.
4. Bila anak terlihat berbakat, jangan ragu untuk memasukkannya ke kegiatan yang sesuai dan ikut pentas, entah pentas seni (membaca puisi) di sekolah, ikut komunitas dongeng, belajar menulis, dan lain-lain.
(Gazali Solahuddin)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar