Jumat, 10 Desember 2010

Mengelola Anak

Membentuk anak memang mirip membuat adonan kue. Bentukan bukan sekadar apik dan rapi, tapi juga memenuhi takaran komposisi: terigu, mentega, gula, dan telur. Kebanyakan mentega, kue bisa gampang lebur. Begitu pun jika kelebihan terigu. Kue menjadi sangat keras.
Anak buat keluarga memang harta yang paling mahal. Nyaris tak satu pun aset keluarga yang bisa menyamai nilai seorang anak. Ia bukan sekadar penghibur dan penyejuk hati. Tapi juga penerus generasi.
Tidak heran jika banyak orang tua yang begitu hati-hati dengan tumbuh kembang anak. Mulai dari soal gizi, hingga masalah isi: baik hati maupun perkembangan nalar. Karena itu, tidak sedikit orang tua yang mulai mentarbiyah anaknya sejak dini. Keinginan itulah yang kini diperjuangkan Bu Dini.
Ibu yang baru dua setengah tahun punya anak ini begitu bahagia bisa menyalurkan bakatnya dalam soal mendidik. Bahkan, saat si bayi belum lahir. Saat itu, ia sudah melatih jabang bayinya mendengar tilawah Alquran. Sambil masak, nyetrika, tiduran santai, Bu Dini kerap menyimak tilawah lewat radio kaset. Bukan cuma buat dirinya, tapi juga si jabang bayi.
Sejak bayinya lahir, Bu Dini mengharamkan televisi di rumah. Ia tidak ingin ada suara, tingkah, dan nyanyian jahiliyah masuk ke rumahnya. Sepi, memang. Tapi, ia bisa lebih khusyuk membina buah hatinya.
Pendidikan lebih intensif lagi ketika sulungnya mulai bisa bicara. Pelajaran bukan sekadar bisa baca tulis, tapi juga sudah masuk urusan akidah. "Akidah?" tanya suami Bu Dini agak heran. Ia sepertinya ragu. Apa mungkin bocah tiga puluh bulan bisa diberikan pemahaman. Akidah lagi!
"Kenapa tidak?" ucap Bu Dini balik tanya. "Pokoknya, Mas harus dukung saya. Itu aja!" ucap Bu Dini menjawab keraguan suaminya.
Dari sekian pelajaran akidah yang diberikan, ada satu yang menarik. Bu Dini mengajarkan anaknya tentang thaghut. Atau sesembahan selain Allah. "Syifa tau kan togut? Apa...? To...gut...!" jelas Bu Dini penuh ekspresi. Seratus persen perhatiannya tertuju ke arah puterinya.

"Apa, Syifa? Coba bilang: to...gut...!" suara Bu Dini sekali lagi ke Syifa. Kali ini, puterinya mulai menyimak. Walau masih sesekali beralih ke bonekanya, Syifa mulai bicara, "To...tut! To...tut!"
Mendengar itu, warna wajah Bu Dini mulai bersinar. Ia merasa begitu berhasil melatih Syifa menyebut Thaghut. "Alhamdulillah! Sayang Ummi pintar! Pintar banget. Cup...!" suara Bu Dini sambil memberikan kecupan buat puteri tercintanya. Ia pun menunjukkan gambar-gambar yang termasuk Thaghut. "Ini apa, Syifa?" tanya Bu Dini sambil menunjukkan suatu gambar ke Syifa. Batita yang sudah mulai mengenakan jilbab ini pun bilang, "To...tut! To...tut!"
Gambar-gambar yang ditunjuk Bu Dini pun berwarna dan seukuran buku. Di situ ada gambar patung-patung, foto presiden beberapa negara, dan sebagainya. Pokoknya, semua sesembahan yang ditakuti, dicintai, dan ditaati selain Allah masuk dalam gambar-gambar itu.
"Apa nggak berlebihan, Din?" tanya seorang teman Bu Dini suatu kali. Ia heran kenapa anak sekecil itu diajarkan Thaghut segala. Kan, berat! Dengan ringan Bu Dini bilang, "Supaya militan!"
Dalam pandangan suaminya, Bu Dini memang tergolong keras. Sejak menikah hingga punya bayi pun, ia menolak ajakan suaminya untuk imunisasi. "Ih, ntar suntik KB terselubung lagi. Nggak mau!" jawab Bu Dini saklek.
Hal yang paling membingungkan suaminya, Bu Dini kerap menolak kalau diajak datang ke rumah orang tua sang suami. Sejak menikah, baru sekali Bu Dini ke rumah mertuanya yang masih perwira tentara. Itu pun karena pesta pernikahannya. Cuma satu hari satu malam ia bisa bertahan. Selebihnya, Bu Dini minta pulang. Alasannya juga masih membingungkan suaminya, "Di sana banyak simbol-simbol thaghut, Mas! Aku alergi!"
Hingga suatu hari, Bu Dini pun menyadari kekakuannya terhadap mertua. Ia mohon maaf ke suami. "Maaf, Mas. Aku terlalu berlebihan!" ucap Bu Dini sambil mencium tangan suaminya. Dan, mereka pun sepakat berkunjung ke rumah mertua Bu Dini. Tentu saja, bersama sang buah hati.
Sambil ramah tamah, ibu mertua Bu Dini pun menyambut hangat cucu mungilnya. Dengan penuh kasih sayang, sang nenek menggendong cucunya yang sudah lancar bicara. "Aduh, cucuku sudah pintar bicara!" ungkap ibu mertua Bu Dini sambil berkali-kali mengecup pipi cucunya.
Ketika digendong-gendong itulah, ibu mertua Bu Dini mengajak cucunya melihat-lihat hiasan rumah. Ada lukisan, kolam ikan, dan juga patung. Sebuah patung menarik perhatian Syifa. Ia pun menunjuk-nunjuk seperti ingin mendekat. Dengan sabar, sang nenek menuruti keinginan cucunya.
Tiba-tiba, Syifa berteriak-teriak, "Totut...totut...totut!" Kedua tangannya menunjuk ke suatu patung lumayan besar. Sambil tersenyum, ibu mertua Bu Dini bilang, "Cucuku, itu bukan patung perkutut! Bukan sayang. Itu patung ga...ru...da....!" (muhammadnuh@eramuslim.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar