Kamis, 14 Oktober 2010

Anak atau Orang Tua Yang Durhaka

Assalamu'alaikum wr. wb.
Sebelumnya saya berharap kita semua selalu di rahmati oleh allah swt.
Dear Ibu Siti Urbayatun,
saya merupakan anak keempat dari 4 bersaudara. Keluarga saya bukanlah keluarga yang religius, orang tua saya tidak pernah mengajarkan saya untuk mengaji, bahkan untuk sholat 5 waktu. Namun semenjak saya SMA hingga kuliah, alhamdulillah saya selalu dikelilingi oleh teman yang cinta kepada allah swt, yang akhirnya sedikit demi sedikit menular kepada saya (insya allah) dan kemudian saya tularkan ke ibu saya.
Di rumah hanya saya dan ibu saya yang menjalankan sholat 5 waktu, sedih memang, setiap hari seusai sholat saya berdoa agar keluarga saya selalu diberi hidayah oleh allah swt, terutama ayah.
Saya sangat sedih jika mengingat apa yang sering dilakukan oleh ayah. Dia selalu menyakiti hati orang lain, hal yang dianggap baik oleh orang lain, akan dianggap buruk olehnya. begitu sebaliknya. Karena di rumah saya dan ibu, sudah menjalankan sholat dan mengaji, ayah sering mencemooh kami (saya dan ibu, serta orang2 lain yang berbuat hal yang sama). Ayah selalu bilang, untuk apa sholat 5 waktu kalau perbuatannya masih jahat (membunuh, korupsi, dll), untuk apa mengaji kalau tidak tahu artinya, dan sebagainya.
Saya sering sekali berdiskusi mengenai hal ini, saya bilang, percuma juga kalau berbuat baik, tp tidak sholat. tp seringkali diskusi berakhir dengan perselisihan, karena ayah tidak mau mengerti dan saya pun kehilangan  kesabaran. Saya pikir hatinya sudah tertutup sama sekali oleh setan dan iblis.
Saat ini ayah punya wanita lain, ibu tahu dan saya pun tahu. Sikapnya sudah banyak berubah, namun sikap selalu menyakiti hati orang lain masih sama. Beberapa hari yang lalu ayah mengatakan ibu tolol, bodoh, dan sebagainya, hal ini sering terjadi tetapi ibu hanya diam, namun saya tidak terima. Saya katakan tolong dijaga mulut ayah sehingga kata-kata yang keluar tidak selalu menyakiti hati orang lain, terutama ibu dan saya (saya hanya ingin melindungi ibu).
Namun ayah marah, dia bilang saya anak durhaka dan tidak perlu meminta maaf ketika lebaran nanti. Saya katakan padanya itu karena dia tidak menghargai istrinya sendiri (ibu). Tapi menurut dia ibu saya banyak dosa kepadanya. Memang saya dan ibu saya sering mendiamkan ayah, karena jika ditanya hanya menjawab seperlunya, dikarenakan kami tahu ayah punya wanita lain (yang baru lulus sma). selain itu jika kami meladeni pembicaraan ayah yang ada hanya perselisihan.
Sekedar informasi ketiga saudara saya laki-laki diantara mereka tidak ada yang diusik oleh ayah, mungkin karena mereka tak peduli terhadap apa yang terjadi di keluarga, atau mungkin karena mereka mengikuti jejak ayah, yaitu tidak menaati perintah allah salah satunya dengan menjalankan sholat 5 waktu.
Maaf ibu Siti Urbayatun, jikalau penjelasan saya terlalu panjang dan bertele-tele.
Pertanyaan saya adalah :
1) Bagaimana cara saya menyikapi segala tindak tanduk ayah?
2) Apakah saya termasuk anak durhaka? karena setahu saya, yang harus kita cintai adalah ibu, ibu, ibu, lalu ayah
sinta

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu

Saudari Sinta yang dimuliakan Allah. Insya Allah Anda anak yang ingin berbakti kepada orang tuanya, Anda memiliki rasa empati yang tinggi atas problem yang dialami oleh keluarga. Bersyukur pula, karena Ibu yang Anda miliki adalah Ibu yang luar biasa. Meskipun Allah memberinya ujian yang berat, beliau tidak pernah menyerah, rasa cintanya kepada ayah Anda menguatkannya untuk terus bertahan dalam rumahtangganya meski beliau sering disakiti. Maka Anda dan saudara Anda diharapkan menjadi penguat bagi Ibu.
Berkenaan dengan pertanyaan Anda :
Banyak hal bisa Anda lakukan kepada Ayah Anda. Sebagai anak, berbakti kepada Ayah Ibu (birrul walidain) adalah kewajiban anak dan menjadi hak orangtua.Sampai Allah memanggilnya, kewajiban itu tidak putus dengan cara Anda mendoakan dan menjalin silaturahim dengan kerabat dan sahabatnya. Kuatkan Ibu untuk tetap menjalankan kewajiban sebagai istri dan menasihati Ayah Anda dengan lembut. Seorang laki-laki akan luluh oleh kelembutan. Jika Ibu mendiamkannya, maka permasalahan tidak akan selesai malah menjadi berlarut-larut dan membuat Ayah mencari pelampiasan dengan berbagai cara. Kepada Ayah Anda yang bisa Anda lakukan adalah menasehatinya dengan sabar dan tawakkal. Jika setelah dinasihati Ayah tidak berubah maka selalu upayakan untuk melantunkan doa agar Allah memberi hidayah untuk ayah Anda, jangan putus berdo’a, ulangi dan jangan merasa bosan untuk mendoakan Ayah dan saudara-saudara Anda. Sarankan pula Ibu untuk mendoakan Ayah, jika Ibu adalah orang yang terdzalimi maka insya allah do’anya tanpa hijab atau akan langsung didengar oleh-Nya.
Saudari Sinta, sebetapapun kecewanya Anda dan Ibu Anda terhadapnya, dia tetap punya hak untuk dihormati, diperlakukan dengan baik. Memang benar bahwa hak Ibu lebih besar, namun hak ayah tetap diperlakukan dengan baik, bukan diabaikan. Jika kejelekan dibalas dengan kejelekan, maka apa bedanya? Orang yang baik adalah yang dapat membalas kejelekan dengan kebaikan, bukan? Itulah beda orang baik dan orang tidak baik.

Saudari sinta, insya Allah memperlakukan Ayah dengan baik, meski Anda tak menyetujui perselingkuhannya, adalah bagian penting yang semoga bisa mengantarkan hidayah untuknya. Bila Anda dapat berbagi dan bicara dari hati ke hati dengannya, tanpa emosi dan tak merasa menang sendiri, lakukanlah. Dan perbanyaknya untuk mendengar ceritanya. Carilah celah yang memungkinkan Anda tahu, untuk apa dia melakukan perselingkuhan, apa yang kurang dari Ibu Anda, bagaimana pula cara beliau mengendalikan hawa nafsu. Kalau memang Ayah punya nafsu yang besar, sedangkan ada kendala di Ibu Anda tentu syariat memberi alternative yang lebih mulia tidak dengan berselingkuh, tetapi dengan nikah secara syah. Namun kalau itupun tidak menghentikan kebiasaan Ayah Anda, berarti ada hal-hal yang secara psiko-spiritual tidak sehat pada Ayah Anda, barangkali membutuhkan bimbingan agamawan atau terapi dari ahli. Atau barangkali dintara keluarga Anda ada pihak-pihak yang dapat mengingatkan Ayah agar menempuh jalan yang benar. Tidak semua masalah bisa diselesaikan oleh keluarga inti, maka mintalah bantuan dari pihak keluarga besar. Semoga saran- saran mereka dapat membantu.

Saudari Sinta, jangan bosan mengetuk pintu langit karena pintu Allah selalu terbuka dari doa hambaNya. Kejadian- kejadian ini, akan menggembleng kepribadian Anda dan keluarga, maka selalu berhusnudzan-lah pada Allah, banyak hal positif akan muncul dari sebuah kejadian yang negatif sekalipun. Amin.
Wallahu a’lam bisshawab,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu
Bu Urba

Tidak ada komentar:

Posting Komentar