Selasa, 25 Januari 2011

Bagaimana menjadikan Siswa Semangat Belajar

“Assalamu’alaikum adikku Evi” sapa salah satu kakakku dari majelis taklim.
“Wa’alaikum salam kak. Ada apa kak, tumben nelpon?”
“Besok ada kegiatan ngga? Kakak mau minta bantuan untuk menggantikan teman kakak sebagai pengawas ujian. Kalau evi mau nanti no HP evi kakak kasih ke beliau. Dia ada urusan yang penting” jawab kakak penuh harap cemas agar aku menyetujuinya.
Berpikir sejenak-kesempatan ini belum tentu datang untuk kedua kali, jadi harus diambil pengalaman yang bermanfaat ini demi ilmu dan wawasan, maka kuberkata padanya dengan optimis, “OK kak. Insya Allah Evi bisa!”

Setengah jam kemudian, teman kakakku itu telpon dan mengatakan besok aku mengawas ujian jam 07.25 dan sebelum jam dimulai harus hadir tepat waktu karena sekolah itu terkenal disiplin, bersih dan rapi.

Tiba sampai di yayasan tersebut, mulailah kumencari gedung mana untuk SMU, Universitas, dll. Setelah bertanya dengan pak Satpam, aku langung masuk ke gedung SMU lalu menuju ke ruangan guru. Semua terasa asing bagiku. Karena aku belum pernah merasakan menjadi seorang guru di sekolah.
Akhirnya dengan senyum manis, aku langsung menyapa, "Selamat pagi Pak, saya mau mencari Kepala Pengawas di sini. Saya adalah pengganti dari Pak Bambang (bukan nama sebenarnya)."
Wah, subhanallah ternyata kekuatan senyum, ramah tamah dan sopan santun dalam bertingkahlaku membuat saya diterima dengan baik dan dihormati ibu dan bapak guru di sekolah tersebut. Mereka pun langsung ajak berbicara dan mulailah bercakap-cakap antara sesama guru tentang perilaku siswanya, kondisi jalan macet akibat maraknya penduduk ikut CPNS Daerah, serta ada yang ngobrol sambil baca koran.
Jadi ingat sebuah hadist Rasulullah SAW yaitu Senyum adalah sedekah, karena orang yang tersenyum adalah orang yang mampu memberikan rasa aman dan rasa persahabatan pada orang lain. Senyum juga menggambarkan karakter kondisi si pemberi senyum bahwa ia mempunyai sifat lembut, ramah, dan bersahaja. Untuk memotivasi para sahabat, suatu hari Rasulullah SAW berpesan, "Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain." (HR Muslim).
Tiba-tiba ada seorang ibu menyapaku : ‘Ibu, istrinya pak Bambang ya?”
Dengan wajah terkejut dan spontan aku langsung jawab : “Bukan Bu, saya temannya yang menggantikannya sementara”.
“Ada-ada aja, dakukan masih single alias belum menikah hehehe..”, jawabku dalam hati sampai tersenyum kepada ibu bapak di ruangan tersebut.
***
Ketika mulai naik lantai dua dan mulai mengawas. Ada keunikan terjadi. Yang pasti pada awal-awal pertemuan Evi panggil mereka dengan sebutan ‘Adek’, seharusnya kan ‘ibu dan anak’. ^_^. Yah begitulah jika kita belum membiasakan diri menjadi seorang guru.
“Beri salam sama Bu Guru. Assalaaaaaamu’alaikum warahmatullaaaaaaaahi wabarakaaaaaaaaatuh,” riuh suara serempak anak-anak yang sangat panjang. Saya langsung tersipu grogi dan membalas salam mereka dengan wajah senyum ceria. Lalu berdo’a.
"Baiklah, ibu akan membacakan peraturan dalam ujian ini ya.."
Setelah soal dan kertas jawaban dibagikan. Ada seorang siswa mengacungkan jarinya dan berkata: “Bu, soal nomor 21 nggak ada pertanyaannya”
“Ya dek, ntar ibu keluar dulu akan ibu tanyakan ke dosen, ehh guru di sini”, wah seperti biasa siswa senang aja jika gurunya meninggalkan ruangan. Tapi terlintas baru sadar, “kenapa tadi aku panggil ‘dek’ ya?” :D
Ujian pun berlangsung dengan suasana sunyi senyap. Ketika 15 menit sebelum dikumpul kertas jawaban, Evi ingati siswa-siswa untuk periksa ulang kertas jawaban-apaakah sudah terisi semua dengan baik atau tidak. Sepintas mulailah mulut ini bercerita dan menyampaikan wejangan pagi hari di depan murid kelas dua.
“Sebenarnya tadi ibu tahu kalian banyak tanya sana sini, tapi apa manfaatnya buat masa depan kalian. Tidak ada kan. Sebelumnya, Ibu ingin memperkenalkan diri, Ibu disini adalah pengganti guru sementara kalian—Pak Bambang. Ibu baru lulus dari UI jurusan teknik elektro dan saat ini sedang menempuh S2 —pascasarjana USU— jurusan teknik elektro juga.
“Wahhhh...” Wajah anak-anak terlihat takjub saat kuceritakan latar belakangku karena mereka juga ingin masuk perguruan tinggi favourite mereka masing-masing. Sesaat kemudian mereka langsung menunduk dan diam seperti sedang merenungi sebuah impian masa depan.
“Siswa-siswaku, jika kalian tanya ibu tentang pelajaran Biologi, insya Allah ibu masih kuasai. Soal-soal yang kalian jawab itu, juga ibu masih bisa jawab dan menjelaskannya seperti tentang simbiosis, mitosis, virus, spora, ilmu genetika, dll. Semua itu ibu masih ingat. Anak-anakku mau tau resepnya apa?”
“Mau.. Mau.. Buuuuuuu...” , jawab seluruh murid dengan antusias.
“Karena ibu saat sekolah dulu memahami ilmu dan konsepnya. Ibu paham i pelajaran tersebut. Jadi sampai kapanpun, berapa pun usia kita, kita masih ingat di buku apa, halaman berapa? Walaupun jurusan ibu fisika. Apakah kalian takut nilai rendah? Dulu nilai fisika ibu selalu merah tapi mengapa ibu bisa ambil jurusan elektro yang sebagian besar adalah fisika karena ibu merasa ‘tertantang’ untuk mendalami ilmu tersebut dan ada keinginan untuk terus belajar serta bertanya pada orang yang tahu. Sering-sering berdiskusi siswaku. Hanya satu pesan ibu, janganlah kalian pelit ilmu sama teman kalian sendiri. Karena ilmu itu adalah sinar yang akan terus menerangi. Semakin banyak kalian memberikan ilmu, maka semakin banyak pula ilmu kalian. Selain ilmu kalian mau pahala juga kan yang akan mengalir terus menerus dari Allah?”
“Mau Buuuuu”, semua murid-murid menjawab serempak dengan suara cukup keras dan wajah ceria setelah mendengar cerita itu.
“Tapi ibu besok ngawas lagi kan” kata beberapa orang anak kepadaku
“Alhamdulillah, besok ibu tidak mengawas lagi.”
Selintas kumelihat wajah sedih mereka. “Betapa mereka ini sebenarnya adalah generasi yang cerdas dan bercahaya apabila dididik dengan pola yang benar. Mereka adalah generasi LUAR BIASA jika guru meyakinkan kepada mereka bahwa mereka adalah yang terbaik.”
Tak terasa bel berbunyi. Semuanya pulang dengan tertib dan menyalamiku layaknya seorang anak kepada ibu kandungnya. Senangnya kumelihat mereka.
Sembari salam, ada beberapa anak yang berucap, “Ibu, aku ingin jadi seperti Ibu. Doakan aku ya bu.”
Terharu batinku mendengar ucapan yang keluar dari anak-anak yang masih muda itu. Semoga Allah selalu menjaga mereka dan membimbing mereka ke jalan yang lurus.
(bersambung, insya Alloh)
***
Semoga kisah true story saya ini memberi hikmah bagi kita semua khususnya para Guru maupun para ibu yang akan membimbing anaknya menjadi generasi cerdas dan bertakwa.

15 menit lagi jam menunjukkan angka 10, saat dimulainya anak-anak SMU ujian. Semua guru -termasuk diriku- pada sibuk beranjak dari tempat duduknya di ruang guru dan mengambil soal ujian serta kertas jawaban di meja ketua pengawas.
“Masya Allah, aku dapat mengawas di lantai 4. Bagaimana ini? Dokter melarangku terlalu capek dan naik tangga yang tinggi, apalagi sampai melangkahkan kaki hingga ke lantai 4.” Aku bercakap-cakap dengan diriku sendiri.
Dengan mengucapkan bismillah, aku tekadkan azzam dan berpikir positif bahwa aku bisa sampai ke lantai teratas itu dengan keadaan sehat dan afiat. Aku tidak boleh ragu, Karena ragu akan membuat setan mudah mempermainkan hati manusia. Tetap yakin, ridha dan tawakkal bahwa Allah selalu bersama setiap insan yang mengingat-Nya.
Alhamdulillah perlahan-lahan melangkah tapi pasti sambil berbicara dengan para guru hingga akhirnya sampai juga ke lantai 4.
Seperti biasa aku masuk ke dalam ruangan kelas dan berusaha untuk duduk dan menatap semua wajah siswa-siswa di depanku dengan wajah tenang. Tapi sayang, langit tak selamanya cerah, begitu juga suasana kelas ini berbeda jauh saat aku mengawas pada kelas pertama.
Guru sudah berada di depan kelas, siswa masih asyik lempar kertas kesana-sini, ngobrol sana-sini -ribut banget macem pasar aja-, belum lagi masih ada yang jalan sana-sini.
“Ehm..ehm...”, akhirnya aku mulai mengeluarkan suara ‘pura-pura’ batuk untuk menyindir mereka. Sebenarnya aku ingin marah sekali, tapi aku berusaha untuk sabar. Setelah itu semua siswa duduk pada tempatnya tapi tetap aja masih ribut dengan gaya duduk di kursi bak seorang preman pasar. Wanita ataupun laki-laki sama saja. Etikanya benar-benar minus banget.
Dengan tenangnya aku bertanya pada semua siswa, “Anak-anak, siapa ketua kelasnya di kelas ini untuk memimpin do’a agar segera dimulai pelaksaan ujian ini”
“Diaa... Buu.. Diaa Bu.., Diaa.. Buuuu” Jawab serempak anak-anak saling lempar tunjuk siapa ketua kelasnya.
Dengan sabar dan wajah senyum, bibir ini pun berucap,”jika tak segera dimulai nanti kalian ketinggalan waktu untuk menjawab soal”. Akhirnya ada seorang siswa mengalah dan memulai memimpin doa. Setelah itu mengucapkan salam.
“Beri salam sama Bu Guru. Assalaaaaaamu’alaikum warahmatullaaaaaaaahi wabarakaaaaaaaaatuh,” terdengar suara lantang siswa-siswa yang semangat mengucapkan salam.
"Baiklah, ibu akan membacakan peraturan dalam ujian ini ya". Saat membacakan peraturan dalam kelas, masih aja ada siswa yang cerita sana-sini, sepertinya siswa tersebut tidak menganggap ada seorang guru di depan.
“Oh ya Allah, berilah hamba kekuatan dan kelapangan hati agar dapat mengatasi kenakalan remaja di kelas ini”
Aku berusaha tidak marah —walaupun dulu guruku waktu SD, SMP atau SMA sering memukul meja atau penggaris kayu yang dipukul ke papan tulis agar siswanya menjadi diam— tapi aku tidak mau melakukan hal itu pada siswa yang masih belia ini —kelas 1 SMA— karena aku teringat betapa lembutnya para rasul saat berdialog dengan kaumnya dimasa Jahiliyah. Nabi Muhammad saw sendiri saat awal berdakwah dihadapkan pada siksaan dan tindakan represif dari kaum musyrikin tapi beliau selalu menanamkan kasih sayang dan kedamaian bahkan beliau sampai mengeluarkan kata-kata yang menggugah,
Aku tidak diutus menjadi tukang laknat. Aku diutus sebagai penyebar rahmat.” (HR. Muslim, No. 1852)
Saat ujian di mulai, semua dalam keadaan tenang. Kecuali satu siswa yang namanya masih kuingat hingga sekarang -Sarmayanta-. Dia siswa yang benar-benar sudah kelewat batas kenakalannya. Walaupun ada guru masih tetap saja mengganggu temannya untuk meminta jawaban. Ingin sekali kuusir dia agar tidak menggangu teman di sebelahnya atau dibelakangnya yang menjadi kunci jawaban baginya.
Karena udah kesal melihat sikapnya, akhirnya kupanggil namanya dengan nada cukup ramah, “Sarmayanta, sudah selesaikah menjawab soal. Kalau sudah selesai sini kumpul sama ibu lembar jawaban dan soalnya”.
“Belum buuu..”, dijawabnya dengan suara lantang dan tatapan tajam seolah-olah dia lebih hebat, lebih tua dari diriku. “Masya Allah, sabarkan hamba ya Rabb.”
Tiada cara lain, maka aku harus ambil langkah terakhir. Akhirnya kubalas tatapannya dengan tatapan lembut dan penuh senyuman di wajahku. Subhanallah, benar-benar kekuatan senyum itu kembali kurasakan. Si Anak Nakal itu langsung tertunduk malu. Tiap dia menatap kepadaku —karena ingin mencari kesempatan bertanya sama temannya yang lain tentang kunci jawaban di saat-saat aku lagi menunduk atau membaca—, aku pun selalu memandangnya. Mukanya menjadi merah, menunduk, cara duduknya pun mulai berubah menghadap ke depan, bukan duduk kesamping lagi dengan kaki di atas kursi.
Alhamdulilah ya Rabb, benar-benar kedahsyatan dari kekuatan senyum itu kembali kurasakan. Kalau sudah seperti ini, akhirnya kupandangi satu persatu wajah siswa-siswa yang sedang menjawab pertanyaan. Karena aku tidak mau marah, lebih baik ketika mereka bertanya ke teman yang lain aku pandangi mereka dengan wajah ramah penuh senyuman. Hal tersebut membuat mereka membalas senyumanku dan tertunduk malu. Karena mereka tahu apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang salah ketika ujian.
*senangnya diriku melihat siswaku tersenyum dengan penuh rasa cinta*
Menjelang 15 menit sebelum waktu selesai, aku memperkenalkan latar belakangku pada semua siswa -sama seperti yang kulakukan saat aku mengawas pada kelas sebelumnya. Akan tetapi, untuk siswa model seperti ini ‘bandel bin jogal’ alias ga bisa diatur, aku lebih dulu mengajak mereka bermain bersama agar pikiran mereka refresh bahwa belajar itu menyenangkan.
Mulailah aku menunjuk satu persatu siswa dengan jariku dan bertanya apa cita-cita mereka di masa depan.
“Dokter bu...”
“Orang berguna bu..”
“Guru bu...”
“Arsitek”
“Nah, kalau Sarmayanta cita-citanya apa?”, sapaku pada anak yang cukup nakal itu dengan wajah ceria dan senyum.
“Tukaang Beeeccaaakkk buuuu...”, jawabnya penuh optimis dan antusias
“Ha ha ha ha ha ha ha ha ha”, semua siswa serempak ketawa termasuk diriku yang tersenyum mendengarnya berkata demikian. Kok bisa tukang becak dijadikan cita-cita.
Tapi selanjutnya aku berkata padanya, “Tidak apa-apa bila ingin menjadi tukang becak, asal jadi pengusahanya. Sarmayanta memiliki banyak becak yang bisa diusahakan kepada yang lain. Itu baru ya namanya cita-cita. Kerenkan, Sarmayanta bisa menjadi bos”
“Iya, benar juga yang dikatakan ibu”, kata beberapa siswa di kelas tersebut.
Semua mata tertuju padaku dengan wajah takjub. Dan kulihat senyuman terukir di wajah anak nakal itu. Alhamdulillah kubisa meraih simpatinya.
Setelah itu aku mulai memperkenalkan siapa diriku dan mereka semakin semangat. Karena mereka ingin lulus kelak masuk Perguruan Tinggi Negeri.
Sebelum seluruh siswa keluar, aku bertanya pada mereka tentang mengapa mereka harus sampai menjawab soal itu semua dengan berbagai cara. Ternyata alasannya ‘takut’ nilai rendah dan menjadi ‘tinggal kelas’. Dengan spontan dan antusias aku berkata,
“Kalian tidak akan tinggal kelas anakku. Guru kalian tidak akan buat kalian tinggal kelas hanya karena nilai rendah, yang terpenting adalah kalian selalu hadir, rajin dan tekun belajar. Nilai ibu merah untuk fisika, tapi ibu tetap semangat terus mempelajarinya. Kalian mau tau teknik agar bisa seseorang itu di banggakan guru dan kalian menjadi cerdas?”
“Mau buuuu...”, seluruh siswa jawab dengan riuh dan semangat juang yang tinggi.
“Kunci cuma satu. Berlatih. Kalian jawab semua tugas yang ada di buku. Contoh: soal matematika, fisika, dll. Jadi ketika guru bilang, kerjakan no sekian? Siapa yang bisa mengerjakannya di papan tulis akan dapat bonus nilai. Nah, karena kalian telah kerjakan di rumah, maka kalian bisa menjawabnya serta menjadi orang yang pertama maju ke depan kelas sehingga membuat guru sayang pada kalian karena kalian cerdas. Itulah sebuah usaha. Jangan lupa disertai juga dengan do’a kepada Allah swt”, aku berkata dengan penuh semangat optimis dan ramah kepada semua siswa.
Alhamdulillah, semua siswa keluar dengan tertib, hanya tinggal satu orang anak wanita sambil menunjukkan buku biologinya padaku: “Bu, tadi saya lupa pengertian tentang biokatalisator dan apa-apa saja yang dihasilkan dalam proses fotosintesis”
Dengan senyuman kujawab, “catatlah soal-soal dan jawaban yang dirasa sulit atau tidak dapat saat ujian di buku catatan kecil. Karena ini akan menjadi memori yang tidak bisa dilupakan dan lihatlah dengan jeli setiap soal itu berhubungan dengan kehidupan sehari-hari seperti jenis virus, bentuk virus, jenis-jenis jamur yang biasa kita makan sehari-hari dan”.
“Makasih ya bu dan mohon do’akan saya bu agar saya kelak bisa menjadi seorang dokter”, tutur anak wanita yang manis dan cantik tersebut padaku. Sungguh aku terharu mendengar ucapannya. Walaupun cuma sehari tapi cukup mengesankan bagiku. Subhanallah.
Selanjutnya aku ke ruang guru mengantar semua berkas dan permisi kembali kepada Ketua Pengawas bahwa tugas saya selesai. Bahagia hati ini karena semua guru ikut ramah padaku dan tersenyum.
Sungguh senyum itu membawa berkah. Senyum juga mendatangkan kelembutan dan sikap ramah kepada manusia. Jiwa kan tenang. Hati menjadi tentram. Jika kita memiliki sikap itu maka dapat membuat hati yang keras menjadi lunak, manrik simpati, membawa kebaikan serta membuat nyaman orang yang berada di dekat kita.
(Selesai)
***
Semoga kisah true story saya ini memberi hikmah bagi kita semua khususnya para Guru maupun para ibu yang akan membimbing anaknya menjadi generasi cerdas dan bertakwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar