Kamis, 17 Juni 2010

Bagaimana Anak Superaktif, Tidak Bisa Diam Selalu Bergerak?

Assalmualaikum wr wb
Bu Namih, saya keluarga muda baru punya 1 orang putra. Sudah berumur 2,5 tahun. Kami belum banyak mengetahui cara tarbiyatl aulad. Kami menghadapi permasalahan mengenai anak saya yang superaktif. Maksudnya, anaknya selalu bergerak tidak mau diam. Apa saja yang didekatnya selalu dipegang kemudian dilempar. Itu terjadi sejak dari usia 1,5 tahun.
Dengan kondisi tersebut, apakah anak saya tersebut termasuk kategori hiperaktif? Bagaimana cara mengarahkannya? Bagaimana cara larangan yang edukatif, karena selama ini sering kurang nurut, kalo dibilang jangan ini, itu...?
Terimakasih atas kesempatan dan kami menunggu jawaban, arahan dari Ibu.
Wassalam,
Abu Daffa



Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
Abu Daffa yang dirahmati Allah SWT….
Semoga keterlambatan jawaban ini tidak mengurangi semangat kita sebagai orang tua untuk berusaha memberikan yang terbaik bagi buah hati kita sebagai amanah dari –Nya.
Meskipun anak laki-laki maupun perempuan bisa sulit dikendalikan, namun memang anak laki-laki umumnya sering menunjukkan sikap-sikap atau perilaku-perilaku yang kita anggap sulit seperti : gembira yang berlebihan dan kadang-kadang melakukan kegiatan fisik yang agresif, menentang, menolak otoritas bahkan kadang kita juga menganggap perilaku-perilaku tersebut sebagai “macho”. Yang sebenarnya perbedaan-perbedaan perilaku tersebut karena aspek sosial dan biologis juga faktor-faktor lain. Tindakan anak-anak yang kadang berlebihan bisa dipengaruhi oleh 5 hal, yaitu :
1. Temperamen
2. Karakteristik biologis
3. Pola asuh
4. Stres keluarga
5. Pengaruh dari luar keluarga/lingkungan
Temperamen
Para pakar di bidang perkembangan anak percaya bahwa kepribadian kita dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis, dan kita terlahir dengan kecenderungan akan perilaku tertentu. Contohnya : beberapa bayi lahir dengan sifat yang sangat aktif dan emosi yang meledak-ledak. Sementara bayi lain cenderung lebih tenang dan kalem (karena menyadari perbedaan-perbedaan ini sejak dini, kita menganggap bahwa itu terjadi secara alamiah, faktor bawaan atau biologis lain). Temperamen biasanya memiliki pasang surut, tergantung kondisi yang dihadapi akan tetapi memang sifat dasar saja tidak bisa dijadikan sandaran akan alasan seorang anak bertindak dengan cara tertentu.
Karakter biologis
Kondisi biologis yang berhubungan dengan karakteristik juga mempengaruhi cara bersifat. Ini meliputi faktor : fisik, emosional serta perkembangan kesehatan dan medis.
• Hal yang berkaitan dengan fisik antara lain : penampilan, koordinasi, kekuatan, tingkat energi dan tingkat kecerdasan anak.
• Hal yang berkaitan dengan emosi yaitu : sensitivitas emosi bawaan mempengaruhi respons seorang anak terhadap situasi yang dihadapinya.
• Hal yang berkaitan dengan perkembangan di mana fase perkembangan inilah yang memiliki dampak yang penting dalam sikap seorang anak yang sulit dikendalikan. 18 bulan s/d 3 tahun adalah masa mengembangkan otonomi secara sehat, untuk menyeimbangkan kemandirian dengan ketergantungan pada orang tua yang memberinya kasih sayang. Sikap yang sulit dikendalikan pada usia ini termasuk sifat menentang dan kemauan keras yang berlebihan serta menuntut orang tua untuk memberikan keseimbangan yang tepat. Jika orang tua terlalu sering mengalah pada tuntutan anak, anak bisa menjadi terlalu mandiri. Namun jika orang tua mencoba meredam sikap tersebut dengan cara keras, anak bisa jadi akan sangat bergantung pada orang tua.
• Hal yang berkaitan dengan kesehatan dan medis adalah kesehatan fisik memiliki dampak penting bagi kesehatan sosial dan emosional. Anak-anak yang mengalami masalah kesehatan kronis bisa beresiko menjadi anak yang sulit dikendalikan. Bukan cuma karena temperamen alaminya, melainkan juga cara-cara anggota keluarga memperlakukannya.
Pola Asuh
Pada umumnya orang tua mengajari anak-anak mereka dengan 4 cara, yaitu :
1. Memberi contoh, ini adalah cara yang utama untuk mengajai anak-anak. Karena anak kecil sering kali mudah menyerap apa yang kita lakukan dibandingkan dengan apa yang kita katakan.
2. Respons positif, dengan mengajarkan anak melalui respons positif mengenai sikap mereka. Jika kita mengatakan kepada anak betapa kita menghargai mereka karena telah menuruti nasehat kita, maka mereka akan mengulangi sikap tersebut. Namun jika umumnya kita larang dengan menggunakan kata “jangan” justru semakin membuat anak ingin mengulangi lagi atau mencoba melakukan hal yang justru dilarang. Cobalah gunakan kata yang lebih menghargai, semisal :”Maaf nak, abi sangat senang jika abang bisa menjaga mainan ini dengan baik.”
3. Tidak ada respons yaitu, orang tua juga mengajari anak dengan cara mengabaikan sikap anak yang cenderung tidak baik. Misalnya, dengan menyembunyikan respons. Namun hal ini tidak boleh dilakukan jika sikap yang ditunjukkan anak sudah sangat mengganggu seperti melempar. Dan orang tua bisa mencoba mengatakan : “Jika abang melempar seperti itu, abi tidak mau mengajak abang bermain lagi.”
4. Hukuman, jika dari ketiga cara tersebut di atas belum juga dapat ditenangkan. Orang tua perlu memberikan hukuman atau secara aktif memberikan respons negatif terhadap suatu sikap. Tetapi perlu diingat memberikan hukuman terlalu sering kepada anakpun tidak banyak membantu. Bahkan jika hukuman yang diterapkan terlalu keras dan terlalu sering bisa menyebabkan sikap negatif anak semakin menjadi-jadi. Baiknya gunakan hukuman yang relatif ringan secara konsisten, seperti menghilangkan hak istimewa atau melarang kegiatan yang sedang dilakukan.
Stress Keluarga
Terkadang anak-anak menunjukkan sikap negatif karena anak melihat orang tua mereka berselisih pendapat di depan mereka, misalnya. Hal ini bisa karena orang tua berbeda pendapat mengenai cara mengasuh anak. Biasanya karena salah satu orang tua bereaksi dengan sikap yang keras dan kasar pada anak umumnya hal ini dipraktekkan oleh ayah. Namun di sisi lain orang tua yang satunya dalam hal ini si ibu tidak bisa menerapkan batasan-batasan. Atau juga terkadang orang tua tidak sepakat mengenai sikap-sikap mana yang perlu didisiplinkan.
Pengaruh dari luar/lingkungan
Seiring pertambahan usia anak. Teman-teman sebaya mempunyai pengaruh yang penting. Karena biasanya sikap negatif teman-temannya akan sangat mudah ditiru oleh anak. Oleh karenanya orang tua sudah harus mengatur kapan, di mana dan berapa lama anak dapat menghabiskan waktunya bermain dengan teman yang bermasalah tersebut. Oh iya, termasuk dalam faktor lingkungan ini adalah juga peran atau pengaruh dari media terutama yang bersifat visual.
Abu Daffa untuk menentukan apakah ananda termasuk kategori hiperaktif atau tidak bisa dilihat dari kategori-kategori yang sudah saya jelaskan di atas. Dan jika memang dari kategori-kategori tersebut tidak termasuk maka alangkah bijaknya ananda dilakukan tes (assesment) terlebih dahulu ke klinik-klinik tumbuh kembang anak terdekat. Demikianlah jawaban yang bisa saya sampaikan dan semoga membantu dan bermanfaat.
Wallahu a’lam bisshawab,
Namih Al Faisal, S.Pd

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar